Jumat, 05 Juni 2009
Patroli laut Malaysia Pukuli Nelayan Indonesia
Dilepaskan setelah Tunjukkan GPS Masih di Perairan Indonesia
SEI RAMPAH - Nelayan Indonesia yang sedang mencari ikan di perairan Sialangbuah melaporkan penganiayaan yang dilakukan anggota TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia). Para nelayan yang menumpang KM Bintang Laut tersebut mengaku dipukuli dan dijemur di geladak kapal. Mereka dituduh melanggar wilayah perairan negeri jiran itu.
Mewakili lima orang, Syafaruddin melapor ke Markas Satuan Polisi Air Bedagai, Tanjung Beringin, sekitar pukul 10.00 Jumat kemarin (17/4). Menurut nelayan berusia 35 tahun tersebut, kejadian itu dialami pada Kamis, 16 April, sekitar pukul 05.00. ''Ketika kami menebar jaring di perairan dekat Pulau Berhala, muncul kapal patroli TLDM,'' katanya.
Menurut dia, puluhan orang terlihat berada di atas kapal patroli tersebut. Para nelayan itu tidak berkutik ketika ditodong senjata laras panjang. ''Kami dipaksa naik ke atas kapal mereka,'' ujar nelayan asal Sialangbuah Sergai tersebut.
Begitu naik ke kapal, mereka langsung menerima pukulan bertubi-tubi. Beberapa di antara petugas patroli jiran itu bahkan menendangi mereka dengan sepatu lars. ''Ada juga yang mengayunkan popor senjatanya,'' tambah Syafaruddin.
Tidak hanya dipukuli, para nelayan itu, menurut Syafaruddin, dipaksa berjemur di atas geladak kapal patroli TLDM. ''Hampir dua jam kami dipaksa berjemur,'' tuturnya.
Di tengah perlakuan kasar tersebut, para nelayan itu membantah tudingan memasuki wilayah Malaysia. Mereka memperlihatkan alat GPS untuk menunjukkan bahwa posisinya masih berada di perairan Indonesia, tepatnya masuk wilayah Kabupaten Serdang Berdagai, Provinsi Sumatera Utara.
Mengetahui hal itu, seorang personel TLDM -yang terlihat seperti komandannya- lantas memerintah Syafaruddin dkk kembali ke kapal mereka sendiri. Namun, seluruh ikan hasil tangkapan nelayan dirampas para petugas patroli jiran tersebut.
Iptu Wito Widodo SH, Kasatpol Air Bedagai, menyatakan sudah menerima laporan para nelayan tersebut. Laporan itu diteruskan ke Polda Sumut. ''Sebab, ini sudah menyangkut hubungan antarnegara,'' jelasnya. (Mag-3/jpnn/ruk)
Ambalat Memanas, RI Jajaki Kapal Perang Canggih Belanda
JAKARTA - Krisis Blok Ambalat atara Pemerintah Indonesia dan Malaysia terus memanas. Sebanyak 13 kali kapal dan pesawat Angkatan Tentara Malaysia memasuki wilayah kedaulatan Indonesia di Ambalat, Kalimantan Timur, sejak Januari 2009.
Hal ini mengundang keseriusan bagi Indonesia untuk menegakkan kedaulatan di Blok Ambalat. Sebab itu, DPR bersama parlemen Belanda mengadakan pertemuan untuk membahas kerja sama pemenuhan kebutuhan kapal perang canggih untuk pertahanan keamanan dan menjaga kedaulatan NKRI.
Menurut Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar, bentuk kerja sama ini adalah dalam bidang kapal perang canggih milik Belanda yang dimanfaatkan untuk eksplorasi ekonomi laut, serta kesiapan dalam menghadapi gangguan kapal asing yang mengancam pertahanan kelautan Indonesia.
"Tapi dalam kesempatan ini juga dibahas kemungkinan kerja sama industri pangan nasional melalui keinginan menarik investasi dari Belanda," papar Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin di DPR, Jakarta, Rabu (3/6/2009).
Menurut dia, kedua parlemen membahas kerja sama kapal-kapal pertahan laut dari Belanda yang selama ini membantu pemimjaman kapal perang. "Kita membutuhkan bantuan cepat dalam menghadapi gangguan kapal asing yang mengancam pertahanan kelautan Indonesia," kata Cak Imin.
Saat ditanyakan berapa jumlah kapal yang akan dipesan, Cak Imin menyebutkan bila pembelian tersebut merupakan kewenangan pihak eksekutif dan peran dari legislatif hanya sebagai fasilitator. "Ini baru tahap proses. Kami hanya membuka pintu sehingga Belanda bisa membantu kerja sama dalam pemenuhan kualitas kapal," pungkas Muhamimin.
Sementara itu Ketua Parlemen Belanda YM Yvonne E.M. A. Timmermman-Buck merespons positif dan menerima bentuk kerja sama antara parlemen Belanda dengan DPR, khususnya kemampuan penyediaan kapal dan sumber daya yang diperlukan. Menurut YM Yvonne, kerja sama tersebut sangat penting dan perlu dipercepat. "Tidak hanya di bidang penyediaan kapal perang, tapi juga pertanian karena menyangkut krisis pangan global," ujarnya.
Namun saat kegiatan berlangsung terjadi insiden kecil. Tiba-tiba YM Yvonne pingsan ketika bertemu dengan Cak Imin dan Ketua DPR Agung Laksono. Tim dokter segera melakukan tindakan medis. Menurut tim dokter, ketua senat Belanda ini mengalami kelelahan fisik. (ram)
Personel TNI AL di Perairan Ambalat Tiarap

JAKARTA - Kendati telah diprovokasi kapal angkatan laut Malaysia berkali-kali, personel TNI AL di sekitar perairan Ambalat tidak berani mengambil tindakan tegas alias tiarap.
Mereka tidak khawatir kalah perang dengan alasan persenjataan kalah canggih, melainkan takut dengan perintah pimpinan TNI yang mengistruksikan jangan melakukan kontak senjata apa pun.
"TNI masih tiarap karena rasa takut atas perintah pimpinan," ujar Ahli Pertahanan Indonesia Letjend TNI (Purn) Syarwan Hamid dalam talk show bertema Prahara dengan Malaysia: Dari Ambalat hingga Manohara, di Gedung DPD RI, Senayan, Jakarta, Jumat (5/06/2009).
Menurut Syarwan, semestinya prajurit TNI berani mengambil tindakan tegas dengan langsung menembaki kapal Malaysia yang memasuki wilayah Indonesia. Dengan syarat sudah berkali-kali diingatkan tapi tidak diabaikan.
"Saya sarankan prajurit di sana bismillah, kalau dilanggar langsung tembak, pasti rakyat Indonesia mendukung," ujarnya.
SUMBER:http://news.okezone.com/read/2009/06/05/1/226399/1/personel-tni-al-di-perairan-ambalat-tiarap
17 Kapal Perang malaysia siaga di Ambalat

17 Kapal Perang Malaysia Dekati Blok Ambalat
Robert - detikNews
(Foto: TNI AU)
Samarinda - Pesawat pengintai strategis berjenis Boeing 737 milik TNI-AU berhasil mendeteksi 17 kapal berbendera Malaysia di perairan batas terluar blok Ambalat, Kalimantan Timur (Kaltim). Salah satu diantaranya adalah kapal perang patroli Jerong milik Tentara Diraja Malaysia.
Diduga kuat Malaysia juga meningkatkan intensitas patrolinya setelah sebelumnya sempat diusir dengan KRI Untung Surapati milik TNI AL saat memasuki blok Ambalat. Demikian disampaikan Danlanud Balikpapan Letkol Penerbang Agus Pandu Purnama saat dihubungi detikcom, Sabtu (30/05/2009).
"Pergerakan kapal perang Malaysia pada batas terluar blok Ambalat sempat kita rekam melalui foto udara," kata Pandu.
Dikatakan Pandu, kapal Malaysia tersebut terekam Jumat (29/05/2009) kemarin. Kapal perang patroli Malaysia terdeteksi dengan kecepatan 15 knot per jam dengan titik koordinat 04.10 utara-118.00 timur mengarah ke blok Ambalat sekitar pukul 02.28 UTC atau pukul 09.28 WIB.
Sebelumnya,kapal perang patroli milik Malaysia tersebut tidak pernah terdeteksi. "Kami sedikit heran karena memang selama kami patroli kapal perang patroli Malaysia itu tidak pernah ada, apalagi mendekati blok Ambalat," ujar Pandu.
Dijelaskan Pandu, selain TNI AL, TNI AU juga rutin melakukan pengawasan udara dengan sandi operasi Tameng Camar. Selain pesawat pengintai strategis, TNI AU juga mengerahkan 3 pesawat tempur, yakni F-16 dan F-5 Tiger buatan Amerika serta Sukhoi 27/30 buatan Rusia. Satuan Radar 225 Lanud Tarakan juga akan terus memantau situasi blok Ambalat hingga ujung Ambalat pada pos laut Karang Menarang dan melaporkannya ke pusat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional.
"Memang kapal Malaysia seringkali masuk blok Ambalat dalam wilayah NKRI. Kalau tetap saja begitu, pesawat sergap dari Lanud Makasar dan Lanud Madiun harus ikut mengusir kapal itu," tutup Pandu.
Sebelumnya, pada Senin (25/5/2009), Kapal perang TNI AL, KRI Untung Surapati-872 berhasil mengusir kapal perang Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) KD Yu-3508 yang mencoba memasuki wilayah kedaulatan Republik Indonesia di perairan Blok Ambalat. Dari catatan TNI AL, diketahui sejak Januari-April 2009 kapal milik tentara Malaysia sudah masuk perairan Indonesia sebanyak 9 kali. (sho/sho)
Sumber : http://www.detiknews..com/read/2009/0...i-blok-ambalat
Rabu, 03 Juni 2009
Tak Ada Kompromi Soal Ambalat

Batas negara antara Indonesia dengan Malaysia di Ambalat tak bisa dikompromikan lagi, karena Ambalat jelas masuk wilayah Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, pemerintah Indonesia akan mengambil sikap tegas jika Malaysia kembali melakukan pelanggaran di wilayah tersebut.
"Apa yang diklaim oleh Malaysia tidak bisa kita terima karena Indonesia yakin itu wilayah Indonesia. Sejengkal daratan ataupun wilayah laut kalau itu wilayah Indonesia harus kita pertahankan, tidak ada kompromi dan toleransi karena itu harga mati," kata Presiden saat memberikan keterangan pers di Pulau Jeju, Korea Selatan kemarin (2/6).
Kepala Negara menyatakan sejak kasus Ambalat muncul dua tahun lalu, dirinya sudah menginstruksikan agar TNI terus melakukan operasi pengamanan wilayah tersebut. "Sekarang ada enam kapal perang dan tiga pesawat udara dari TNI AL. Barangkali pihak Malaysia mengklaim tempat itu bisa saja dia patroli tapi ketika memasuki wilayah kita, jelas kita halau dan itu yang kita lakukan kemarin."
Namun, Presiden mengingatkan, untuk menegakkan kedaulatan tidak harus mengobarkan peperangan, apalagi Indonesia dan Malaysia adalah anggota ASEAN yang hubungannya diatur dalam Piagam ASEAN.
"Ada diplomasi, ada penyelesaian secara damai, jadi jangan hanya beretorika supaya dianggap pemimpin yang berani terus mengobarkan perang di mana-mana," ucapnya.
Ia menjelaskan, persoalan batas wilayah di Ambalat terus dibicarakan antara kedua negara dan pemerintah Indonesia sudah mendorong segera dilanjutkan perundingan mengenai batas wilayah di sekitar Ambalat.
"Jadi saya tegaskan sekali lagi kapada seluruh rakyat bahwa posisi kita jelas yang diklaim itu adalah wilayah Indonesia dan kita tidak bisa menerima dan wilayah itu kita jaga. Kita lanjutkan negosiasi," katanya. Ia mengharapkan persoalan yang sudah dalam perundingan tingkat menteri ini tidak diganggu dengan pelanggaran batas oleh kapal-kapal perang Malaysia.
Departemen Luar Negeri kemarin menyiapkan nota protes diplomatik untuk Pemerintah Malaysia. Saat ini Departemen Luar Negeri bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut memetakan titik-titik pelanggaran kapal Malaysia.
"Hari ini kami mengoordinasikan sebuah nota protes yang detil, kronologis dan koordinat peta yang akurat," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Teuku Faizasyah, Selasa (2/6).
Menurut Faizasyah, Indonesia belum akan membawa sengketa Ambalat ke Mahkamah Internasional karena hukum nasional dan kelautan internasional mengharuskan negosiasi dahulu dengan negara tetangga.
Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato Zain Abidin menyatakan saat ini Malaysia "Belum memiliki pernyataan apa pun tentang Ambalat". Abidin menolak pernyataan bahwa kapal perang negerinya Melayu itu telah melanggar kedaulatan Indonesia.
Siap Perang

Kepala Pusat Penerangan TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen menyatakan TNI siap melaksanakan kebijakan politik yang diambil negara. "Kalau perintah perang, pasti kami laksanakan," katanya. Begitu pula jika pemerintah memutuskan mengambil langkah diplomasi.
Dia meminta Departemen Luar Negeri segera melanjutkan diplomasi dengan pemerintah Malaysia. "Harus ditanyakan mengapa mereka melanggar prosedur yang sudah disepakati bersama."
Komandan Kapal TNI Angkatan Laut KRI Untung Suropati Mayor Salim mengatakan, situasi keamanan di Ambalat masih siaga penuh dengan tetap mempertahankan dan meningkatkan kewaspadaan.
Selain melanggar wilayah, kata dia, kapal-kapal perang Malaysia mengusir, bahkan menangkap sejumlah nelayan Indonesia karena dianggap melanggar wilayah Malaysia di Ambalat. Padahal, seharusnya di daerah yang masih dalam sengketa antara dua negara, tidak boleh ada provokasi dari salah satu pihak.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur mengusulkan perang melawan pasukan Diraja Malaysia. Ketua DPRD Kaltim, Herlan Agussalim menyatakan tindakan pasukan Diraja Malaysia sudah keterlaluan dengan mengusir nelayan Indonesia sehingga mereka takut melaut.
"Kalau masih dalam keadaan begini, sampai kapan wilayah Blok Ambalat tersebut selesai. Tak ada kepastiannya, lebih baik perang," kata Herlan.
DPRD Kaltim telah menyetujui anggaran Rp85 miliar dari APBD 2009 untuk membeli satu helikopter guna mengawasi perbatasan. "Ini sebuah bukti, bahwa Kaltim tidak main-main membantu pemerintah dan militer Indonesia untuk menjaga perbatasan."
Komandan Pleton Prajurit Intai Amfibi (Taifib) di Sebatik, Letnan Dua Marinir Deny Aprianto mengatakan, dirinya bersama pasukan lain tengah menjalani latihan siap perang.
"Latihan jika terjadi perang yang sesungguhnya di wilayah Blok Ambalat," katanya saat dihubungi wartawan. Deny mengatakan, pasukannya yang tergabung dalam Satuan tugas Marinir Ambalat telah disiapkan sebanyak 130 Korps Marinir yang terbagi beberapa tim.
"Kalau Taifib untuk satu timnya terdapat tujuh anggota. Saat ini, kami hanya menunggu perintah dari atasan. Jika perang, kami telah siap bertempur," katanya.
SUMBER:http://alutsista.blogspot.com/2009/06/siap-berperang-jika-ada-perintah.html
Senin, 01 Juni 2009
[Ambalat memanas]-Tujuh KRI bersenjata lengkap telah dikirim

TNI Siap Berperang di Ambalat
Tujuh kapal perang bersenjata lengkap telah dikirim.
JAKARTA -- Perairan Ambalat kembali bergolak. Setelah kapal perang Malaysia berkali-kali menerobos wilayah Indonesia, Tentara Nasional Indonesia bersiaga. Sejak Rabu lalu, TNI Angkatan Laut telah mengerahkan tujuh kapal bersenjata lengkap untuk berpatroli di perairan antara Sulawesi dan Kalimantan itu.
Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen mengatakan Indonesia siap bertempur untuk mencegah kapal milik Tentara Diraja Malaysia kembali memasuki perairan Indonesia. "Kami mengingatkan mereka bahwa Ambalat adalah perairan kita," kata Sagom saat dihubungi kemarin.
TNI Angkatan Udara juga menyiapkan dua unit pesawat Boeing 737 dan satu unit Sukhoi 27/30 untuk beroperasi di perairan Ambalat. Komandan Pangkalan Udara Balikpapan Letnan Kolonel Agus Pandu Purnama mengatakan ketiga pesawat itu saat ini bersiaga di Makassar.
Sabtu lalu, kapal Malaysia, KD Baung-3509, tepergok memasuki perairan Ambalat sejauh 7,3 mil. Sejam kemudian, kapal perang cepat itu diusir oleh KRI Untung Surapati-872, dibantu dua kapal perang lainnya.
Sebelumnya, KRI Untung Surapati dan KRI Hasanuddin-366 mengusir KD Baung dari Ambalat. KRI Untung Surapati juga mengusir kapal Malaysia, KD YU-3508, yang memasuki perairan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, sejauh 12 mil.
Tak hanya lewat laut, Malaysia juga menerabas wilayah Indonesia lewat udara. KRI Untung Surapati dan KRI Hasanuddin mendeteksi satu helikopter dan satu pesawat Beechcraft jenis intai maritim milik Malaysia memasuki wilayah udara Indonesia.
Dalam catatan TNI, sejak Januari 2009, sedikitnya sembilan kali Malaysia menerobos wilayah Indonesia. Sejauh ini, kata Sagom, tak sekali pun terjadi kontak senjata. "Kalau TNI menembak, itu adalah keputusan politik negara," katanya.
TNI berharap pemerintah Indonesia segera melakukan langkah-langkah diplomatik untuk menyelesaikan persoalan ini. "Supaya perbatasan kedua negara menjadi jelas," ujar Sagom.
Juru bicara Departemen Luar Negeri, Teuku Faizasyah, mengatakan perundingan dengan Malaysia soal Blok Ambalat menemui kendala karena Malaysia tengah mengganti tim perundingnya. "Kami menunggu tim perunding baru," kata Faizasyah saat dihubungi kemarin.
Menurut Faizasyah, pemerintah sudah 13 kali berunding dengan Malaysia soal Ambalat. Tapi, hingga putaran perundingan terakhir pada Mei tahun lalu, kedua negara belum bersepakat soal batas-batas negara di perairan itu. "Perundingannya tak mudah," ujar dia. ANTON SEPTIAN | FIRMAN HIDAYAT
Saling Klaim Dua Tetangga
Sejak 1980, Indonesia dengan tegas menyatakan wilayah Ambalat seluas 6.700 kilometer persegi sebagai milik Indonesia. Penegasan itu mengacu kepada Deklarasi Djuanda 1957. Dua tahun kemudian, Perserikatan Bangsa-Bangsa melahirkan Konvensi Hukum Laut yang mengadopsi Deklarasi Djuanda.
Pada 1999, Pertamina menyerahkan kontrak Blok Ambalat kepada ENI (Italia). Sedangkan konsesi Ambalat Timur diberikan kepada UNOCAL Amerika. Saat itu tak ada protes dari Malaysia soal pengoperasian blok yang diperkirakan mengandung 62 juta barel minyak dan 348 miliar kaki kubik gas bumi tersebut.
Namun, belakangan Malaysia menyebut kedua blok itu sebagai Blok ND6 dan ND7 serta mengklaim sebagai wilayah laut mereka yang baru. Malaysia mengacu kepada putusan Mahkamah Internasional (International Court of Justice) yang memetakan Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi milik Malaysia pada 2002.
Klaim Malaysia atas Ambalat mencakup wilayah yang lebih luas, sekitar 25.700 kilometer persegi, hampir seluas Provinsi Sulawesi Utara. Namanya Blok ND6 dan ND7. Sebelumnya, blok ini dinamakan Blok Y dan Z. Kontrak kedua blok yang diklaim Malaysia diserahkan kepada Shell (Belanda) bersama Petronas Carigali Sdn Bhd (Malaysia). EVAN
Senin, 25 Mei 2009
JK Janji Perbaiki Anggaran Pertahanan

JK Janji Perbaiki Anggaran Pertahanan
BANDUNG, kompas..com - Calon Presiden asal Partai Golkar dan Partai Hanura Jusuf Kalla berjanji bakal membenahi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI dan Polri. Pembenahan dilakukan agar tidak terjadi lagi jatuhnya korban di pihak TNI dan Polri ke depan.
"Kita tidak main-main. 2010-2011 kita sanggup memperbaiki jauh lebih baik," kata Kalla menjawab pertanyaan peserta pelantikan Tim Kemenangan JK-Wiranto di DPD tingkat I Jawa Barat, Jumat (22/5).
Menurut Kalla, pembenahan alutsista TNI dan Polri bergantung pada anggaran yang tersedia di departemen ataupun sektoral. "Ini sangat ditentukan kemampuan ekonomi. Tapi kalau kemampuan ekonomi kita rendah maka kita tidak mungkin penuhi semua itu," jelasnya.
Mantan Menko Kesra ini menjelaskan, peningkatan anggaran bisa meningkat dengan menjalankan prinsip-prinsip pemerintahan ekonomi yang baik. "Saya contohkan tadi, beli panser setengah harga, dan cepat lagi, bagus lagi. Apa sih kurangnya dari bangsa ini untuk maju," urainya.
http://nasional.kompas..com/read/xml...ran.pertahanan

